Belajar Langsung di Sumbernya, Mahasiswa Polman Negeri Babel Telusuri Dapur Produksi PT Timah Muntok
Mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Rekayasa Mesin Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung (Polman Babel) mengikuti kunjungan industri ke PT Timah Tbk, Unit Metalurgi Muntok Divisi Processing dan Refinery, Rabu (24/06/2025).
Kegiatan ini diikuti sebanyak 38 mahasiswa dari Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Manufaktur (D-IV TMM dan RPM) serta Program Diploma III Teknik Pembuatan dan Perawatan Mesin (TPPM dan TPcM), didampingi dua dosen pembimbing, Harwadi, M.Ed. dan Ilham Nur Dimas Yahya, M.T.

Rombongan disambut langsung oleh Sofian selaku Head of Processing and Refinery Division beserta jajaran manajemen dan teknisi PT Timah. Sambutan hangat ini membuka peluang diskusi langsung antara mahasiswa dan karyawan industri bersama tim teknis yang mengajak mahasiswa menelusuri area produksi dan mengenalkan proses kerja di pabrik.
Selaku Dosen Pembimbing, Kamis (26/06/2025) Harwadi, M.Ed. menyampaikan bahwa kunjungan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bentuk nyata dari sinergi kampus dengan dunia industri.
“Mahasiswa butuh pengalaman langsung. Belajar dari mesin yang hidup, bukan hanya dari slide presentasi,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, Harwadi menambahkan bahwa kunjungan ini juga memicu semangat mahasiswa untuk menggali inovasi teknologi manufaktur berbasis lokal dan mahasiswa tidak sekadar tahu, tapi bisa berpikir kritis terhadap proses produksi timah,” lanjutnya.

Dalam sesi presentasi, Sofian memaparkan alur proses produksi timah di PT Timah Tbk Muntok tidak hanya berorientasi pada hasil akhir berupa logam timah murni, tetapi juga mengedepankan efisiensi energi dan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab dalam setiap tahapan mulai dari peleburan, pemurnian hingga pencetakan perusahaan menggunakan sistem kontrol terintegrasi untuk memantau suhu, tekanan, serta komposisi kimia secara real-time untuk menjaga kualitas dan konsistensi produk sesuai standar ekspor.
“Selama ini mahasiswa mungkin hanya membayangkan proses pemurnian di buku, hari ini mereka menyaksikan realitasnya,” katanya.
Ia juga membuka ruang tanya jawab seputar tantangan operasional dan efisiensi energi dalam proses peleburan, ternyata banyak yang ingin tahu lebih jauh, kami senang bisa berbagi,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Sofian menjelaskan seluruh kegiatan operasional dirancang agar minim dampak lingkungan, salah satunya dengan memanfaatkan kembali panas sisa (waste heat recovery) dan menerapkan teknologi filtrasi gas buang.
“Tidak hanya memikirkan produksi, tapi juga keberlanjutan harus memahami bahwa industri modern tidak bisa lagi mengabaikan aspek lingkungan,” tegasnya.
