Panen Perdana Jadi Bahan Evaluasi, Penelitian Dosen Polman Negeri Babel Kembangkan Kompos Organik di Lahan Bekas Tambang
Berawal dari rasa kepedulian terhadap lingkungan, dosen Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung melakukan penelitian pemanfaatan kompos organik pada lahan bekas tambang timah memasuki tahapan penting melalui panen pertama sekaligus pengamatan tanaman uji coba kompos organik yang dilaksanakan di dua lokasi, yaitu Desa Kimak dan Air Jangkang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (26/09/2026).
Penelitian tersebut dilakukan, Mahmudin, S.P., M.Si., Hendrik Ali, S.T., M.M., Nur Khasanah, S.P., M.Si., Irwan, S.ST., M.Sc., Ph.D., Deni Pratama, S.P., M.Si., Dr. Ilham Ary Wahyudie, S.S.T., M.T., Andyka, S.E. Pemanfaatan Kompos Organik untuk Reklamasi Lahan Bekas Tambang Timah sebagai Upaya Peningkatan Ketahanan Pangan di Bangka Belitung dalam program Bestari Saintek (Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi) yang diinisiasi oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Dit. Minat Saintek), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan pendanaan dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).
Saat dikonfirmasi, Senin (28/09/2026) Ketua Penelitian, Mahmudin, S.P., M.Si., menyampaikan panen jagung dan pengamatan tanaman merupakan tahapan penting dalam rangkaian penelitian sehingga hasil yang diperoleh dari uji coba tahap pertama menjadi dasar untuk melakukan evaluasi pengembangan kompos organik tahap selanjutnya," ucapnya.

Selain itu, Panen pertama tidak hanya melihat hasil tanaman jagung, tetapi untuk mengetahui bagaimana respons tanaman terhadap perlakuan kompos organik yang telah diberikan pada lahan bekas tambang terkait tanaman sorgum masih dalam tahap perawatan karena memiliki umur panen yang berbeda dengan jagung.
" Data dan hasil pengamatan dari tanaman jagung serta perkembangan tanaman sorgum akan menjadi bahan evaluasi bagi tim dalam menentukan jangka panjang penelitian," imbuhnya.
Mahmudin menjelaskan penelitian dilakukan secara bertahap agar setiap hasil uji coba dapat menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan sebab pengembangan kompos organik tidak berdasarkan hasil formulasi, tetapi mempertimbangkan hasil penerapan langsung di lapangan," tuturnya.

Sedangkan, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan penelitian, Riky Martin, menyebutkan keterlibatannya dalam penelitian memberikan pengalaman langsung dalam memahami proses penelitian di lapangan, khususnya terkait pemanfaatan lahan bekas tambang untuk kegiatan pertanian," imbuhnya.
Ia mengaku memberikan pengalaman yang sangat baik karena kami tidakmempelajari teori, tetapi bisa melihat langsung kondisi tanaman dan lahan di lapangan dapat melihat tanaman jagung yang sudah memasuki masa panen, sementara tanaman sorgum masih dalam tahap perawatan,” katanya.
Tak kalah menarik, perbedaan umur panen antara jagung dan sorgum juga memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk memahami bahwa setiap tanaman memiliki fase pertumbuhan dan waktu panen yang berbeda sehingga pengamatan harus dilakukan secara berkelanjutan.
“ Penelitian membutuhkan proses dan pengamatan secara bertahap dari hasil panen jagung dapat menjadi bahan evaluasi, sedangkan tanaman sorgum masih akan terus diamati sampai memasuki masa panen,” tambahnya.
Lanjutnya, hasil penelitian harus terus dikembangkan sehingga kompos organik yang dihasilkan nantinya dapat memberikan manfaat dalam mendukung pemanfaatan lahan bekas tambang dan kegiatan pertanian dan hasil uji coba dasar pengembangan kompos organik tahap 2 Panen jagung dan hasil pengamatan yang dilakukan pada kedua lokasi sebagai bahan evaluasi bagi tim peneliti," bebernya.
Sementara itu, Dosen lainya peneliti, Hendrik Ali, S.T., M.M., mengungkapkan tanaman sorgum tetap dipelihara dan diamati hingga memasuki masa panen karena data dari uji coba tahap pertama tersebut selanjutnya akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan pengembangan pupuk kompos organik tahap 2. Setelah pengembangan dilakukan, kompos organik tahap berikutnya akan kembali diuji coba untuk mengetahui respons tanaman dan kesesuaiannya terhadap kondisi lahan bekas tambang," tandasnya.

Berjalan dengan itu,Tahapan penelitian diharapkan dapat menghasilkan formulasi dan pemanfaatan kompos organik yang semakin baik serta sesuai dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan yang menjadi sasaran penelitian dan selain menghasilkan data penelitian, kegiatan menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa serta memperkuat antara tim peneliti, mitra, kelompok tani, dan pihak yang menyediakan lokasi uji coba," pungkasnya.
Dalam hal ini, ucapan terima kasih mitra pendukung Startup Kompos Organik ANW yang telah mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan kompos organik, serta kepada PT Timah Agro Manunggal dan Pemerintahan Desa Kimak serta Gapoktan Kimak Bahrin Lestari atas dukungan dan penyediaan lahan yang digunakan sebagai lokasi uji coba penelitian dalam menghubungkan kegiatan riset dengan kondisi di lapangan karena antara perguruan tinggi, mitra, dan kelompok tani diharapkan terus diperkuat untuk mendukung pemanfaatan hasil penelitian bagi masyarakat," terangnya.
