Dosen Polman Negeri Babel Dorong Pertanian Modern di Desa Banyu Asin
Kelompok Tani Desa Banyu Asin, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, mendapat dukungan penguatan dari dosen Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung (Polman Babel) melalui program pengabdian kepada masyarakat. Program ini berfokus pada penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah sektor pertanian, Jumat (19/09/2025).
Desa Banyu Asin memiliki luas wilayah 3.354 hektare dengan lahan pertanian mencapai 1.706 hektare, termasuk 106 hektare persawahan. Meski potensinya besar, para petani di desa ini masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari penggunaan teknologi tradisional, keterbatasan alat pertanian modern, sistem manajemen usaha yang belum optimal, hingga akses pemasaran yang terbatas.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim dosen Polman Babel yang terdiri dari Yuliyanto, M.T., Dr. Parulian Silalahi, M.Pd., dan Laily Maharani, M.Si., bersama mahasiswa, hadir memberikan solusi nyata berupa mesin pengering padi atau gabah dan pemotong padi. Kehadiran alat ini diharapkan mampu membantu petani mengatasi kendala pascapanen, khususnya saat musim penghujan.
Ketua tim pengabdian, Yuliyanto, M.T.,Senin (22/9/2025) menegaskan bahwa strategi penguatan kelompok tani melalui teknologi tepat guna menjadi langkah penting dalam meningkatkan daya saing pertanian. “Penerapan alat dan mesin pertanian modern, seperti mesin panen mekanis dan pengering hasil panen, diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi,” jelasnya.
Tak hanya itu, Yuliyanto juga memperkenalkan inovasi lain berupa sistem mina padi, yakni integrasi antara budidaya padi dengan perikanan. Menurutnya, metode ini mampu memberikan dua keuntungan sekaligus: menghasilkan padi dan ikan. Selain itu, ikan di sawah juga berperan membantu mengendalikan hama secara alami sehingga dapat mengurangi penggunaan pestisida.
“Inovasi sistem mina padi tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat keberlanjutan ekosistem pertanian. Petani bisa memperoleh tambahan pendapatan dari hasil perikanan, sekaligus menjaga kesuburan tanah secara alami,” tambah Yuliyanto.
Kepala Desa sekaligus Ketua Kelompok Tani Banyu Asin, Rohmi, S.Kom., menyampaikan bahwa sebelumnya masyarakat masih mengandalkan teknologi produksi tradisional. Proses panen padi masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu lebih lama. “Masalah terbesar adalah saat musim penghujan, padi yang tidak bisa dikeringkan menjadi mudah berjamur atau lapuk,” ungkapnya.
Dengan adanya mesin pengering padi dari Polman Babel, Rohmi optimistis masalah tersebut dapat teratasi. Menurutnya, bantuan ini menjadi langkah penting dalam mempercepat proses pascapanen sekaligus meningkatkan kualitas gabah yang dihasilkan.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada solusi. Bantuan ini harus dimanfaatkan dengan semestinya dan semaksimal mungkin. Kami berharap teknologi ini tidak hanya membantu petani, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa agar lebih siap menghadapi dunia kerja,” tegasnya.
